Monday, July 9, 2012

Dua Jiwa, Satu Tujuan Bag. 1 - Cerita Dari Temen Ane

Bismillah ...

Alhamdulillah.. Pada kali ini ane kepingin sekali men-share hasil karya dari temen ane (Dhani Ariys Riyadi), yang dibantu mempublikasikannya di Facebook oleh mas Syamsul Bukhari dan mas AmeEd Rifai. :D

Diantara  banyak hal yang menarik dari cerita ini, adalah salah satunya dimana ada seorang yang ustadz yang menjadi seorang imam dan namanya adalah irsal. Menurut ane, inilah yang membuat unik dari cerita ini. Seorang irsal dilambangkan jadi seorang imam masjid yang memiliki suara yang begitu merdu sampai - sampai ada salah satu makmum dari jama'ah sholat yang meneteskan air mata dikarenakan bacaannya si Ustadz tersebut, padahal selama ini ane ngerasa kalau suara ane tidak sampai segitunya.. :D

Yaa monggo disimak ceritanya... Semoga dapat bermanfa'at... *Ditutup disini aja yaa Gan, Sist.. :D*



ADZAN SHUBUH berkumandang di Masjid sebelah. Derasnya hujan dan hembusan angin yang dingin membuat orang malas bangun dari tempat tidur untuk menunaikan sholat shubuh di Masjid. Sehingga banyak lampu di rumah rumah yang belum menyala.

Di dalam Masjid, hanya ada lima orang yang sholat shubuh, diantaranya ada dua pemuda yang bernama Fathi dan HameEd. Mereka adalah pemuda pecinta Masjid. sebagian besar waktu mereka di habiskan beribadah, mencari ilmu dan mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz yang biasa mengisi pengajian di Masjid tempatnya.

Di atas sajadah merah shaff paling terdepan berdiri lelaki setengah tua yang berwajah hitam manis, bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan kedua matanya meneteskan air mata sehingga membasahi pipinya,karena pada waktu itu ustadz irsal sedang membaca surat ‘Abasa. dan dibelakang ustadz irsal berdiri HameEd yang tubuhnya bergetar ketakutan mendengar lantunan ayat ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan indah oleh ustadz irsal. Tatkala ustadz irsal membaca ayat :
"Faidza jaaaa atishoookhokh
Yauma yafirrul mar’u min a’khiiWa ummihi wa abiihWa shoohibatihi wa baniih…
“Dan apabila datang suara memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua)
Pada hari ketika manusia lari dari saudara – saudaranya
Dari ibu dan bapaknya
Dari istri dan anak anaknya…”
Tambahan gambar...

Air mata mengalir deras dari kedua matanya, membayangkan dahsyatnya huru hara dan kengerian yang terjadi pada hari kiamat , semua manusia berlarian ketakutan untuk menyelamatkan dirinya masing-masing hingga lupa dengan keluarga dan kerabatnya.

Setelah selesai shalat, air mata HameEd masih mengalir, dia terus teringat dengan ayat yang di baca oleh ustadz irsal tadi, dia membayangkan jika di hari kiamat nanti dia lari dari ibunya, ibu yang mengasuhnya sendirian semenjak dia umur enam tahun, karena pada umur tersebut ayah ardian telah meninggal dunia.
kemudian ustadz berwajah arab dan bertubuh tegap maju kedepan untuk memberikan ilmu dan nasehat kepada jama’ah shalat shubuh Masjid Raudhatul Jannah.

Jangan kau dekati zina, itulah tema pengajian shubuh yang diisi oleh ustadz Muhammad bajre pada waktu itu. Dengan semangat suara yang keras, sehingga urat-urat di lehernya kelihatan. Ustadz Muhammad bajre memperingatkan jamaah shubuh untuk menjaga anaknya dari zaman yang penuh dengan fitnah ini, dan memperingatkan kepada fathi dan HameEd agar jauh dari hal hal yang namanya pacaran. Karena mereka berdua sangat rentan untuk melakukan hal itu.

Wahai jamaah sholat shubuh, lihatlah pemuda saat ini banyak yang berpacaran, padahal berpacaran itu hukumnya haram. Karena mereka akan mendekati perbuatan zina .
Sedangkan Allah berfirman di dalam suratAl-Isra’ ayat 32 yang berbunyi:
“ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”
Itulah sedikit kalimat yang diisi oleh ustadz Muhammad bajre.

Setelah pengajian selesai para jamaah pulang dari Masjid, termasuk Fathi dan HameEd juga pulang kerumah.

Sesampai di rumah fathi siap-siap untuk pergi sekolah, Karena hari ini adalah hari pertama buatnya untuk masuk di sekolah yang baru, setelah nilai UNAS smpnya lolos dari seleksi penerimaan siswa baru di SMAN 123 Surabaya. Sedangkan HameEd masih sekolah di tempat SMPnya dulu yaitu di SMA Islamiyah. bukan karena nilai UNASnya yang jelek dia gak masuk sekolah negeri, tetapi karena dia ingin menjaga imannya agar tidak terpengaruh pergaulan, karena di sekolah negeri kelas antara laki-laki dan perempuan bercampur baur jadi satu dan pelajaran Agamanyapun sedikit .
***
Mobil Honda jazz berwarna hitam keluar dari garasi rumah mewah, terlihat pria berwajah manis dengan kulit berwarna sawomatang di dalam mobil tersebut, dialah pak sopir yang bernama pak Udin yang mau mengantarkan Fathi kesekolah.

“pak Udin, pak Udin berhenti dulu sebentar”
“ kenapa harus berhenti tuan muda?”
“ aku mau kerumah Hamed sebentar”

Setelah itu Fathi turun dari mobil dan lari menuju rumah HameEd. Jarak antara rumah fathi dan Hamed tidak begitu jauh kira – kira 15 meter, rumah Hamed sangat berbeda dengan rumah fathi, jika rumah fathi seperti istana raja yang di dalamnya berisi barang barang mahal, rumah Hamed seperti gubuk yang berukuran 6 x 4 meter yang bisa ditampung hanya 3 orang.

“ tok, tok,tok,” bunyi saat fathi mengetuk pintu rumah HameEd,
“ Assalamu’alaikum”
“ Wa’alaikumussalam, tunggu sebentar” terdengar suara wanita tua dari dalam rumah menjawab salamnya fathi dia adalah ibunya Hamed yang benama bu Amina, ibu yang merawat Hamed dan adik perempuannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, demi putra putrinya bu aminah rela bekerja mencari uang dengan mencuci pakaian warga kampung di sekitar rumahnya.

Pintupun dibuka oleh bu Aminah
“ eh.. nak fathi ada apa?” dengan senyum bu Amina menyapa fathi.
“ HameEdnya ada bu?
“ baru saja berangkat kesekolah, emangnya ada keperluan apa?”
“seperti biasa bu, aku mau mengajak dia berangkat bareng kesekolah “
“loh,.. sekolah nak fathi ama Hamedkan sekarang beda, arahnya pun beda jauh,kalo berangkat bareng gimana caranya?”
“ terus Hamednya kesekolah naik apa?”
“ dia naik sepeda ayahnya yang udah lama gak dipakai”
“ sepeda tua itu ta bu” dengan terkejut dan heran fathi bertanya.
“ ya, nak tapi kemarin udah diperbaiki kok ama HameEd”
“ ya, udah makasih ya bu, Assalamu’alaikum”
“ wa’alaikumussalam’’

Dengan wajah kecewa dan kurang senang dia kembali kemobil dan menyuruh pak udin untuk berangkat.
“ tuan muda kenapa wajahnya kok lemas seperti itu?” Tanya pak udin, saat melihat wajah tuan mudanya yang berubah.

Fathipun hanya diam tidak menjawab pertanyaan pak udin. Dia benar –benar merasa kurang begitu bahagia, karena hari ini adalah hari pertama buat dia berangkat kesekolah sendirian tanpa HameEd.

……………… bersambung kawan.
Insya Allah untuk cerita selanjutnya akan lebih seru…
Karena akan ada nama ardian, musa, rizal, haikal dan anita…
Seperti apa peran mereka di cerpen tersebut……….??

TUNGGU CERITA SELANJUTNYA

Jika ada Post yang tidak muncul gambarnya atau ada link yang tidak bisa di klik pada postingan saya, mohon kabari saya ya, via FB Terima kasih